Berita | Mengintip Desain Jembatan Selat Sunda

Berita

Mengintip Desain Jembatan Selat Sunda
Kamis, 04 Agustus 2016 Administrator

Ir. Rony Ardiansyah, MT.

Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik sipil UIR

Informasi dan berita seputaran dunia rancang bangun di bidang jasa konstruksi terasa semakin dibutuhkan baik dikalangan mahasiswa teknik sipil, praktisi, maupun masyarakat dunia jasa konstruksi lainnya. Dalam dunia rancang bangun modern, faktor lingkungan sudah merupakan suatu harga mati yang harus sungguh-sungguh diperhatikan. Seperti halnya desain Jembatan Selat Sunda, pilar-pilar Jembaatan tidak lagi menapak pada pulau-pulau kecil. Tetapi kini pilar-pilar Jembatan ini menapak hanya di lepas pantai pulau-pulau kecil itu.

Marilah kita intip desain Jembatan Selat Sunda (JSS) yang unik melalui majalah Tecno Konstruksi (Edisi 26, Jan 2010: 8-17). Hasil studi PT Bangungraha Sejahtera Mulia (BSM) seperti yang diungkap oleh majalah ini, “Desain Trase JSS harus menjaga kelestarian pulau-pulau kecil itu. Pulau konservasi itu tidak boleh ada pembangunan di atasnya. Karenanya JSS nantinya hanya akan melintas di lepas pantai pulau-pulau kecil”.

Dari berbagai trase itu yang terbaru adalah usulan dari PT BSM dari hasil pra studi kelayakan yang telah dilakukan. Aspek teknis dan kaitannya dengan lingkungan PT BSM dibantu konsultan Wiratman Asociates. Trase itu merupakan dua bentang tanpa adanya tiang sejauh 2,2 kilometer. Pondasi yang mendukung Pylon sebagai tiang tempat digantungkannya jembatan sangat besar sekali. Pondasi model caisson yang berpenampang bulat itu memiliki diameter 100 meter, jadi luas penampang itu mencapai satu hektar. Kedalaman tiang pondasi yang terendam di dalam air laut hanya boleh sekitar 30-40 meter, lebih dari itu akan, maka beban yang dipikul akan terlalu besar.

Jembatan bentang panjang dengan teknologi jembatan bentang panjang generasi ketiga akan diterapkan pada JSS. Salah satu perubahan yang signifikan dari model sebelumnya adalah pada deck jembatan. Jika pada jembatan bentang panjang generasi sebelumnya ketebalan deck jembatan bisa mencapai 15 meter. Untuk bentang tengah gantung jembatan gantung yang semakin panjang, seperti di JSS yang mencapai 2,2 kilometer, maka deck yang tebal akan sangat berat sekali. Karenanya generasi ketiga jembatan bentang panjang memiliki deck yang tipis dari bahan baja. Pada JSS tebal deck hanya 4,5 meter, tetapi tetap memiliki kekuatan yang besar.

Deck ini bukan hanya tipis tetapi banyak lubang dan rongga untuk mereduksi terpaan angin pada deck yang sangat berbahaya pada jembatan bentang panjang. Angin diberi kesempatan untuk lewat di sela-sela rongga pada deck, jadi bentuknya dirancang aerodinamis.

JSS mengambil konsep desain jembatan Messina sebagai referensi. Jembatan Messina yang dijadwal selesai pada tahun 2016 juga merupakan deck dengan tebal yang kecil serta aerodinamis. Sebenarnya deck dengan ketebalan yang kecil sudah ada yang selesai dan sudah beroperasi sejak Desember 2009 yaitu di jembatan Xiao Hu Men di China, tetapi bedanya dengan JSS dan Messina tidak ada jalur kereta api di atas deck, hanya jalur kendaraan mobil. Jembatan Xihoumen memiliki bentang tengah 1.650 meter terpanjang kedua setelah jembatan Akashi Kaikyo (1.991 meter) di Jepang.

Dalam pengamatan Jodi Firmansyah (seperti yang diungkap Tecno Konstruksi), pakar jembatan bentang panjang dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, tak mungkin JSS dibangun dengan menyatukan antara jalur jalan raya dengan jalur kereta api. Sepuluh jembatan bentang terpanjang di dunia dengan tipe jembatan gantung (suspension) hanya difungsikan untuk jalan raya, tidak ada yang menyatukan dengan lintasan jalan kereta api. Jembatan bentang terpanjang saat ini adalah Akashi Kaikyo di Jepang dengan bentang 1.991 meter.

Messina merupakan jembatan yang dirancang untuk melintas di atas selat dengan kondisi laut yang berbeda dengan di Selat Sunda. Kalau pada Messina sistemnya menerapkan arkulasi antara deck dan pylon yang menjadi satu. Sehingga untuk beban angin dan beban kereta api yang ada, jika terjadi gempa maka akan floating. Jika dibiarkan saat gempa terjadi floating harus ada batasan pergerakannya hingga maksimum tertentu yang masih layak. Jika sistem deck Messina ingin diterapkan pada JSS artinya harus bisa mengunci pada waktu beban angin sama beban kendaraan tetapi jika ada beban gempa dia harus lepas seperti sistem lock up device.

Sedangkan untuk menyalurkan beban akibat temperatur dan beban kereta api Messina menggunakan jack sebagai dudukan deck. Pada JSS dengan beban yang jauh lebih besar bisa jadi jack yang dibutuhkan akan berukuran sangat besar. Harus dipikirkan bagaimana membuat jack sebesar yang dibutuhkan karena tentunya harus pesanan khusus.

Di Messina tinggi antara deck dan pondasi yang berada di darat mungkin sekitar 60 meter, kurang lebih sama dengan di JSS, tetapi karena pondasi JSS berada di dasar laut maka jarak antara deck JSS ke dasar pondasinya lebih Panjang. Jika ada gaya sebesar 200.000 ton bekerja di deck maka gaya moment yang terjadi di pylon bagian bawah akan sangat besar. Di dunia ini belum ada yang pernah membangun pilar jembatan dengan kedalaman yang kira-kira sama untuk jembatan Selat Sunda. “kalau ini untuk jalan masih bisa diupayakan tetapi jika sudah gabung dengan jalan kereta api tantangannya masih terlalu besar” ujar Jodi Firmansyah. Selain itu, di Itali tempat jembatan Messina rencananya akan dibangun, skala gempa hanya 7 skala richter, sedangkan di Selat Sunda bisa mencapai 8 hingga 9 Skala Richter. ***

sumber : http://ronymedia.wordpress.com/2010/10/17/mengintip-desain-jembatan-selat-sunda/



Terkait
Agenda Kegiatan
Informasi Singkat
Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
Pengumuman
Download
Link